‘Cerita’ Kuliah S2 di SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (3)

foto Ujian Promosi/Ujian Tesis, 28 Agustus 2020
Seperti yang sudah saya sampaikan di tulisan sebelumnya, mata kuliah di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atau SPs itu ngga terlalu banyak, jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang kuliah di kampus lain. Tapi jangan salah, karena memang SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu kampus riset, maka ujian-ujian tesisnya itu banyak sekali tahapnya.
Sebagai perbandingan, temen saya kuliah di kampus negeri dan swasta di Jakarta, ujian tesis hanya 2 kali. Pertama seminar proposal atau sidang propoasal kemudian seminar hasil atau sidang tesis. Lalu bagaiamana di UIN?
Saya menjalani tahapan ujian tesis sebanyak 7 kali. Wooow kan? Pertama, ujian proposal. Kalau proposal kita diterima kita lanjut untuk tahap selanjutnya. Kalau ditolak, maka kita harus bikin proposal lagi. Kalau masih ditolak lagi, ya bikin lagi. Hehe.. Dulu waktu saya masih kuliah, kalau tidak salah dikasih kesempatan 3x ujian proposal tesis, kalau tidak lulus kemudian dikasih kesempatan untuk menyelesaikan studi S2 tanpa tesis.
Sebagai gantinya, mahasiswa harus menambah beberapa mata kuliah dan tugas akhir dan kemudian keluar dari SPs dengan gelar M.Phil atau Master of Philosopy. Tapi sekarang aturan itu sudah dihapus. Jadi sudah ngga ada gelar M.Phil lagi di SPs.
Kembali ke tahap ujian tesis sebanyak 7 kali, mungkin kalian ada pertanyaan: ujian apa saja kok bisa sampai sebanyak itu?
Nih, jadi setelah tahap pertama atau ujian proposal tesis kita diterima, kita akan diuji untuk BAB I, II, dan III yang disebut dengan Work in Progress I. OK! Setelah itu masuk tahapan ujian selanjutnya yaitu BAB I – V, yang disebut dengan Work in Progress II. Apakah sudah selesai?
Belum gaes! Setelah itu kita diberi tugas untuk membagi isi dalam tesis kita ke dalam 3 aspek; pemikiran, sejarah dan kelembagaan. Tahap keempat ini namanya ujian komprehensif tertulis. Habis selesai ujian komprehensif tertulis, maka kita akan diuji lagi dengan yang disebut dengan ujian komprehensif lisan. Ya, bisa dikatakan ini tahap kelima.
Oh ya, di setiap ujian itu tidak ada istilah single examiner atau penguji tunggal. Mulai dari ujian proposal, Work in Progress I, Work in Progress II sampai ujian promosi/ujian tesis semua diuji oleh team penguji antara 3-5 orang. Dan juga ujiannya tidak sendiri-sendiri, biasanya sekitar 5 orang atau lebih mahasiswa lain sesuai dengan tahapan ujiannya, kecuali ujian pendahuluan dan ujian promosi/ujian tesis itu sendiri-sendiri.
Nah, selanjutnya ini momen yang paling menentukan di tesis kita, layak atau tidak dilanjutkan ke ujian promosi/tesis. Apa itu? Ujian tahap keenam ini namanya ujian pendahuluan. Ujian ini tidak hanya menguji kesesuaian metodologi penelitian, pertanyaan dan temuan penelitian, tapi juga sampai tata cara penulisan, referensi dll. Biasanya ini akan banyak revisi, tapi itu tergantung masing-masing, dan tentunya juga para pengujinya.
Oh ya, jangan lupa bahwa setiap ujian yang kita lalui, mulai dari Ujian Proposal, Work in Progress I, Work in Progress II, Ujian Pendahuluan sampai Ujian Promosi/Ujian Tesis harus disertai dengan bebas plagiasi dengan angka toleransi maksimal 25%. Nah, untuk cek kadar plagiasi ini tidak bisa dilakukan di sembarang tempat atau dengan aplikasi di internet yang bisa diakses secara bebas, tapi hanya melalui perpusatakaan SPs.
Di plagiasi ini ya susah untuk ngakalin persentasenya, karena akan selalu ada cek plagiasi sampai tahap akhir ujian. Alhamdulillah, sejauh ini hasil plagiasi saya tak pernah mencapai angka 10%. Rata-rata 9%. Untuk urusan toleransi angka plagiasi ini, semakin kecil angkanya tentu semakin baik. Meski saya juga belum terlalu puas dengan angka itu.
Kalau sudah lulus ujian pendahuluan, tahap terakhir adalah ujian promosi/ujian tesis.
Kalau sudah sampai tahap ujian promosi/ujian tesis ini, mahasiswa baru sudah bisa disebut lulus. Berarti tinggal ambil ijasah dong? Oh, tidak semudah itu ferguso.
Setelah kita selesai ujian promosi/ujian tesis dan wisuda tentunya, kita harus bikin tesis kita jadi buku cetak ber ISBN dan minimal draft jurnal. Syukur-syukur sudah terbit jurnalnya. Kalau sudah selesai, baru bisa ambil ijazah.
Piye? Asyik kan? Ya, kira-kira begitu ringkasannya tentang cerita kuliah di SPs UIN Syarif Hidyatullah Jakarta. Siapa tahu bisa jadi referensi untuk teman-teman yang berniat melanjutkan studi S2 atau S3 di kampus ini. Amiin.
—-HABIS—

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*